Nurlela dan Pangrango

Setelah berkali-kali melalui shelter yang seakan-akan selalu membalap kami, akhirnya kami tiba di Pos Panyangcangan, pertigaan jalur pendakian dan jalur wisata air terjun Cibeureum. Perjalanan turun merayapi jalur bebatuan di sela malam memang memaksa mata lebih awas. Memilih turun berlari tak mungkin dilakukan. Imbasnya, gembolan di punggung kian nyaman menganyam pundak. Sensasi linu yang menganiaya itu menokok-nokok bahu seakan mau jebol.

Di tepi pos, aku membuang keril, menghayati rasa bebas dan hampa di sekujur punggung dengan jidat mengernyit, mata terpejam, katup bibir membuka dua centimeter, serta batok kepala agak mendongak. Aahhh…

“Ih, kunang-kunang!” bilang Dea girang. Continue reading “Nurlela dan Pangrango”

Advertisements

Nisbi

Pada mulanya adalah Ilham; Ilham itu bersama Allah, dan Ilham itu adalah Allah. Firman sedang gandrung dengan nama samaran anyarnya.

Syahdan, seperti biasa, Ilham mengantari beberapa nas wahyu. Hari ini lima.

Satu: ada paralelisme antara semangat dan prinsip harakiri para samurai matahari terbit dengan kekalahan tim nasional sepakbola Jepang pada Belgia di menit akhir, subuh tadi, sebagai keengganan tunduk pada pragmatisme, kendatipun pada gelanggang Piala Dunia. Mengapa kolonialisme atas negeri tercinta malah menularkan semangat koruptif Belanda alih-alih semangat antipragmatisme Nippon?

Dua: bagaimana insan, dengan pongah dan pandirnya, merasa hidup, ketika tak pernah merasa mati? Bagaimana bisa memafhumi rumah manakala tak pernah memahami pergi? Jangan-jangan, kita malah mendapati jiwa rumah dalam tualang, embara, dan kelana.

Tiga: mengapa wahyu-wahyu liar macam ini yang menggaduhi batok kepala, di saat justru pikiran-pikiran soal kelanjutan studi mengkal di jidat dus muncrat dari congor para kerabat kampus?

Empat: (sebab,) ilmu dan wawasan kelewat raksasa untuk pecahannya terhambur hanya di kungkungan tembok-tembok kelas universitas; sebagaimana tinta ayat-ayat Tuhan terlampau samudera untuk cuma tertoreh di nas-nas kitab suci yang kini sedang laku lewat kesadaran palsu; serupa kehadiran dan wajah Allah terlalu semesta demi dijejalkan di rumah ibadah yang sempit.

Lima: Ilham-ilham ini saja turun didampingi bak mandi yang menghadap kakus.

Siang usai cuci badan, sembari menanti hidangan terong goreng.

3 Juli ’18

Larut dalam Harmony

Semalam Lailatul Qadar. Betul-betul malam istimewa. Malam yang lebih baik dari seribu bulan: malam “Seribu Bintang” yang “Begitu Indah”, ketika “Kasih Tak Sampai” mewujud “Pupus”. Inilah malam bersejarah yang menautkan birama ganjil orkestra “Roman Picisan” dengan orkestra “Mahadewi”, menjerumuskan “Sobat Baladewa” “Larut” dalam “Harmony”.

Dewa 19 feat. Ari Lasso satu gelanggang dengan Padi Reborn — selanjutnya saya tulis Padi saja lah. Dewa 19 masih vakum sejak 2012, Padi 2011, tapi telah lahir kembali tahun ini.

Entah, perseteruan Ahmad Dhani dan Piyu masih berlangsung atau sudah saling masa bodoh satu sama lain. Itu masalah pribadi, yang kebetulan — atau celakanya — bersangkut-paut dengan Padi. Yang jelas, mitos bahwa Dewa 19 dan Padi takkan akur, bisa kita pastikan sebagai mistifikasi oleh industri gosip yang doyan bikin intrik belaka. Jauh sebelum ini, Fadly kerap mengisi vokal band Dhani, baik Dewa 19 — dalam konser bulan Ramadan — maupun Mahadewa. Yoyo juga, bahkan sempat dipinang Dhani selepas keluarnya Tyo Nugros.

Malam ini, mitos itu lesap dalam senyap, ditumpas repertoar demi repertoar yang dihidangkan kedua superband yang — sayangnya — tampil terpisah. Baladewa melengking selantang suara mahakinclong Fadly menembangkan lagu-lagu Padi. Giliran berikutnya, Sobat Padi berjingkrak dan berteriak semampunya mengimbangi lantunan Ari Lasso yang mengidungkan madah-madah ibadah Dewa 19. Continue reading “Larut dalam Harmony”

Kuatir di Kwatisore

Sekitar pukul 17.00 WIT. Angkasa menjelang senja kali ini tak menampakkan tanda-tanda akan sepermai senja kemarin yang keunguan. Mumpung sisa-sisa pendaran matahari masih beredar di langit, untuk ketiga kalinya sejak kemarin, saya memutuskan untuk snorkeling, lagi.

Sebagai orang yang sudah banyak sekali catatan dosanya, saya merasa tak sanggup lagi memanggul dosa-dosa tambahan yang ukurannya besar-besar jika saya mendustakan undangan Tuhan untuk snorkeling – atau setidaknya hanya main-main air – di perairan depan resor Kalilemon. “Mandi” dan berendam di dalam air yang sama dengan air laut Samudera Pasifik sana.

Continue reading “Kuatir di Kwatisore”

Melucuti Baduy Luar Sehelai demi Sehelai

Gelap pelan-pelan melimbur pandangan. Batok kepala yang dari tadi disetel merunduk buat memperhatikan lebih jeli susunan batuan yang membentuk jalan dan tangga setapak, kini menengadah. Sediri rumah panggung yang samar perawakannya lantaran dibungkus senja telah mematung beberapa meter di depan sana. Ia seakan telah jengah menunggu kami sejak petang. Rasanya semacam pulang main bola melampaui waktu maghrib, lalu menghadapi Bapak yang berkacak pinggang di muka pagar.

“Silakan,” tutur Mang Jakam, empunya rumah, kepada kami berdua belas.

“Alhamdulillah, akhirnya,” saya mendesah puas dengan kadar volume suara minimum. Namanya juga desahan. Continue reading “Melucuti Baduy Luar Sehelai demi Sehelai”

Resensi Buku: Jurnalisme Sastrawi – Andreas Harsono

IMG_20180223_223239Detail Buku

Judul: Jurnalisme Sastrawi — Antologi Liputan Mendalam dan Memikat
Penyunting: Andreas Harsono dan Budi Setiyono
Penerbit: Yayasan Pantau
Cetakan: I Oktober 2005
Tebal: 352 halaman
Harga: minjam di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia 🙂

Ulasan

Buku ini jadi buku jurnalisme sastra(wi) kedua yang saya pinjam dari perpustakaan kampus. Istimewanya, buku yang dijejali delapan liputan yang dimuat di majalah Pantau ini ialah buku jurnalisme sastra(wi) perdana yang saya lahap hingga tandas betul. Buku pendahulu, Jurnalisme Sastra karangan Septiawan Santana Kurnia hanya saya pinjam, perpanjang dua kali, namun tetap terlalu hambar buat disantap habis. Maklum, isinya lebih mengarah pada sisi asal-muasal serta konsep-konsep yang melingkungi maupun mesti terpenuhi dalam karya jurnalisme sastra.

Buku pendahulu yang berkulit muka krem kekuningan, rasanya, hanya seperempatnya saja yang pernah singgah di mata; dan hanya setengah dari situ yang melekat di kulit otak. Sedikit mengulas, menurut Mas Septiawan, jurnalisme sastra(wi) nongol sebagai produk alternatif atas karya-karya jurnalistik yang — kelewat — ringkas. Laporan yang dibungkus dalam hard news mencampakkan detail peristiwa, yang penting lima we satu ha saja. Laporan feature pun bukan solusi. Walakin, seorang jurnalis-cum-novelis Paman Sam, Tom Wolfe namanya, bagai pionir dalam memunculkan suatu bentuk jurnalisme anyar yang kemudian banyak dijuluki sebagai jurnalisme sastrawi atau jurnalisme naratif. Continue reading “Resensi Buku: Jurnalisme Sastrawi – Andreas Harsono”